Tampak kebun kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir

Kelapa, Imlek dan Idul Fitri

Minggu, 11 Feb 2018 - 20:30:00 WIB
Dibaca 3104 Kali

Oleh A. Rahman Masiga*

Tahun Baru Imlek 2569 Kongzili hanya beberapa hari lagi menjelang. Tahun ini Imlek jatuh bertepatan pada 16 Februari 2018 M. Seluruh warga keturunan Tionghoa, tanpa terkecuali, tentu bersukacita menyambutnya. Sebagaimana lazimnya warga muslim menyambut Idul Fitri, Imlek merupakan hari besar yang sangat dinanti-nantikan saudara kita yang berketurunan Tionghoa.

Maka tak heranlah, jauh sebelum hari H berbagai persiapan pun dilakukan. Mulai menghias rumah, mempersiapkan berbagai kebutuhan rumah tangga, mengurangi aktifitas rutin dan  tentunya juga ancang-ancang untuk mengisi liburan nantinya. Tentu tidak ada salahnya, kita juga berbahagia atas kebahagiaan saudara-saudara kita yang akan menyambut Tahun Baru Imlek. Selamat dan sejahtera saudaraku!

Dibalik kebahagiaan ini, ada satu fenomena yang patut dicermati dan ini terjadi saban tahun. Sibuknya saudara-sudara kita warga keturunan untuk menyambut Imlek tersebut, tentu mengharuskan mereka beristirahat dalam aktifitas mereka. Padahal seperti yang kita maklumi, berbagai bidang usaha vital di negeri ini khususnya perekonomian banyak yang dibawah kendali saudara kita keturunan Tionghoa. Alhasil, laju perekonomian cukup menurun kalau tak mau dikatakan terganggu.

Seperti di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) yang terkenal dengan julukannya Negeri Hamparan Kelapa Dunia. Komoditas kelapa yang menjadi penghasilan lebih dari 75 persen masyarakat Inhil tentu terganggu pula, sebab aktifitas perusahaan-perusahaan besar yang menampung komoditas kelapa petani yang dikendalikan saudara kita keturunan Tionghoa harus berhenti sementara untuk beroperasi atau minimal mengurangi aktifitas usahanya.

Kurangnya aktifitas perusahaan penampung kelapa, tentu mau tidak mau berdampak pada anak-anak usaha dibawahnya. Rantai distribusi kelapa menjadi terputus. Petani yang tetap ingin menjual hasil kebunnya sebab kebutuhan tetap harus berjalan, harus berhadapan dengan penampung-penampung kelapa (tengkulak) yang stok kelapanya sudah menumpuk di gudang sebab tak bisa menyalurkannya ke perusahaan.

Disisi lain, para tengkulak pun menghadapi dilema yang cukup tinggi. Membeli komoditas dari petani di saat stok di gudang sudah penuh berlimpah tentu bukanlah pilihan bijak. Tapi jika tidak dibeli, kemungkinan pelanggan yang biasa menjual kepada mereka akan lari ke penampung lain cukup besar. Tak heranlah, akhirnya kelapa dan kopra tetap dibeli namun dengan harga yang harus turun disebabkan permintaan yang kurang karena persediaan berlimpah.

Kondisi ini sebenarnya adalah kondisi normal dan bisa dijelaskan secara ilmiah bahwa permintaan, penawaran, harga dan kuantitas akan suatu barang dan jasa saling mempengaruhi satu sama lain. Permintaan tercipta ketika keinginan suatu barang disertai kemampuan untuk membeli. Kemampuan tersebut tentu terkait dengan ketersediaan uang.

Nah, para penampung kelapa dan tengkulak di kampung-kampung saat ini sedang mengalami ketidaktersediaan uang yang cukup tetapi disaat bersamaan mereka harus membeli produk petani untuk mempertahankan pelanggan sehingga diciptakanlah politik ekonomi dengan menurunkan harga barang. Penurunan harga barang ini juga sebagai usaha menekan penawaran.

Sungguh ini kondisi normal dan sudah menjadi fenomena rutin ketika sedang menghadapi hari-hari libur baik itu Imlek, Libur Tahun Baru dan Idul Fitri. Bedanya jika pada Tahun Baru Imlek rantai distribusi putus di level atas maka pada Hari Raya Idul Fitri mata rantainya putus dibawah atau hanya ditingkat tengkulak.

Jadi santai saja... tidak perlu gusar. Dan sebenarnya para petani sangat memahami kondisi ini karena sudah bertahun-tahun mengalaminya. Mereka yakin bahwa ini tidak akan berkepanjangan. Kondisi biasanya normal lagi pasca Cap Go Meh tanggal kelima belas tahun Imlek. 

Jadi, siapa yang gelisah?.... silahkan jawab sendiri bro.....

Gong Xi Fa Chai

Selamat menyambut Tahun Baru Imlek Saudaraku...

Selamat dan sejahtera...!!!


*Penulis adalah pemerhati kelapa yang juga merupakan petani kebun kelapa di Inhil




TAG :
tinggalkan komentar
berita terkait

Imtaq Berkah Sambangi Keluarga Ibuk Ros

Minggu, 19 Agu 2018 - 17:17:00 WIB
TELUK KUANTAN, SENUJU.COM-Ikatan Remaja Masjid Muttaqin Desa Sawah  Kecamatan Kuantan Tengah, Ahad (19/08/2018) kembali menyambangi keluarga kurang mampu untuk diberikan bantuan pangan berupa, Beras, Minyak ...

Pria Berusia 59 Mendadak Meninggal Dunia Saat Makan

Kamis, 2 Agu 2018 - 20:12:00 WIB
PEKANBARU, SENUJU.COM-Salah seorang warga Kota Pekanbaru, Ruslan, yang sedang menyantap makanan di rumah makan Lumbung Mas, mendadak meninggal dunia.Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (2/8/2018) sore, ...
PEKANBARU, SENUJU.COM-DK, seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, diduga bunuh diri dengan kondisi tewas tergantung. Leher pria 24 tahun itu terikat kain sarung ...
PANGKALANKERINCI, SENUJU.COM-Rendi (9), korban tenggelam di Sungai Kualo Pangkalan Kerinci, Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.Korban ditemukan sekitar 10 meter ...
TELUK KUANTAN, SENUJU.COM-Hanya berselang semalam, Dodi Amran (30) Operator alat berat PT Riau Mitra Lestari, korban tenggelam di Desa Pebaun Hilir, akhirnya ditemukan di Desa ...

KABAR TERKINI


bergabung disini
KABAR POPULER
© 2017 SENUJU.COM - ALL RIGHTS RESERVED