Nek Majene (78) sedang menalu “kelintang Melayu Timo Kuale Patahpaghang”. (Foto: Moshtamir Thalib – Senuju.com)

Ulasan Sekilas Tentang “Kelintang Melayu Timo” Kuala Patahparang

Kamis, 30 Nov 2017 - 08:22:13 WIB
Dibaca 868 Kali

Catatan Mosthamir Thalib, Sastrawan-Budayawan

-----

Pengantar Redaksi 

MENILAI penting Festival Seni Budaya Melayu 2017/ Riau yang diadakan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Riau, sebagai upaya menggesa pencapaian visi dan misi 2000-2025, Senuju.com ingin pula turut serta (berkontribusi). Lebihan lagi festival itu diikuti delegasi dari 12 Kabupaten/ Kota dan 7 masyarakat adat se Riau, juga dari 5 provinsi dan 5 negara. Maka, selain berita, in sya’a Allaah, kami sajikan pula catatan yang ditulis Dewan Redaksi – Tuan Guru H. Syafruddin Saleh Sai Gergaji, mulai Jum’at 5 Robi’ul Awwal 1439 (24 November 2017) hingga festival usai. Sastrawan-Budayawan Moshtamir Thalib, berkenan pula menuliskan satu catatan: Ulasan Sekilas Tentang Kelintang Kuala Patahparang, yang kami muat hari ini, Kamis 12 Robi’ul Awwal 1439 (30November 2017).
 
Semoga anda berkenan dan berkesan. Salam Redaksi
__________________________________________________________________________________________________
                                                                                         

MENYAKSIKAN kelintang khas dari Desa Patah Parang, Kecamatan Sungai Batang, Inhil, tampil di Festival Seni Budaya Melayu 2017/ Riau, teringat kembali perjalan saya ke sana bersama Tim Pencari Jejak Melayu Timur Irranun (saya singkatkan Tim PenJeMeTI), pertengahan November 2016 – persis setahun yang lalu. Kami (Ketua Tim  yang juga Ketua Mahkamah Anak Negeri Sabah [MANS] – YB OKK [Orang Kaya Kaya] Haji Marin Haji Hassin, Tuan Abd Naddin Sahaddin,   Madin Sumalah setiba dari Kuala Lumpur, Malaysia -  Ka disparporabud Inhil, Tuan Junaidi Ismail, sahabat sastrawan-budayawan Tuan Kazzaini Ks, dan saya), datang ke Kuala Patahparang untuk maksud “mencari jejak itu”. Kami tiba menjelang ‘ashor, dan sholat di Masjid di hilir desa. Lantas kami dibawa singgah ke Cik Li Muhammad Ali Sapar yang sederhana. Sesaat tiba, seorang perempuan yang dah sepuh, Nek Majene (78) langsung duduk bersimpuh di depan perangkat kelintang tua serta-merta menalu-nalu cembul besi  kelintang satu per satu.

"Tong ..., tung ..., tong ..., tong ... tung ... tung ..., " kelintang yang ditalunya dengan dua alat pemukul dari kayu yang digenggam jemari tangan kanan dan kirinya, tiba-tiba terhenti. Lantas, "Tong ...” Sekejap, senyap.

“YANG SATU INI sumbang,” katanya seraya mengarahkan mukanya pada satu cembul kelintang yang sudah berlubang. Padahal telinganya bengap, sudah kurang ‘awas’ (tidak begitu mendengar lagi). Baleh jadi Nek Majene mendengarn dengan perasaan (intuisi).

RUPANYA, bunyi kelintang yang disebutnya sumbang itu, cembulnya sudah rompeng berlubang. Dapat dimaklumi, karena memang kelintang itu barang lama yang usianya boleh jadi tak berselisih jauh dengan umur Nek Majene, bahkan mungkin lebih. Maklumlah pula, barang peninggalan.

BERBEDA dibanding  kolintang (kulintang) – alat perkusi,  khas Minahasa, Sulawesi Utara, dibuat dari bahan kayu lokal yang ringan namun kuat (kayu telur [alstonia sp], wenuang [octomeles sumatrana miq], cempaka [elmerrillia tsiampaca], waru [hibiscus tiliaceus], dan yanag sejenis) yang konstruksi seratnya parallel, kelintang Melayu Timo (Timur) di Kuala Patahparang dibuat dari bahan perunggu. Tidak hanya di Kuala Patahparang, dulu ada pula di Kecamatn Reteh, dan beberapa tempat lagi yang ada orang Melayu Timo.

SESUAI dengan namanya “Kelintang Melayu Timo Kuale Patahpaghang”, konon musik tradisional tujuh nada ini berasal dari Timur Nusantara, daerah Tempasuk, pusat Melayu Iranun – Mindanao (Pilifina), dan Sabah Borneo, ( kawasan Kalimatan yang menjadi Negara Bagian Malaysia). Masuk ke Inderagiri dan serantau Kepulauan Riau pada 1787, dibawa prajurit peran Sultan Ismail dari Tempasuk, yang datang ke Kerajaan Melayu Riau-Lingga atau Riau-Johor untuk membantu Sultan Mahmud Riayatsyah yang berseteru dengan penjajah Belanda.

DENGAN berpakaian hanya sepinggang di badan, begundal sundal penjajah Belanda yang kalah kocar-kacir terbirit-birit menyingkir getir ketakutan. Kerjasama (koalisi) Kerajaan Riau-Lingga dengan Kerajaan Tempasuk itu berjaya mengalahkan Belanda (Ulande), dan mengusir hengkang Residen David Ruhde enyah  dari Tanjungpinang pada Ahad 26 Zulhijjah 1299 (13 Mei 1787). Mereka pontang-panting menuju Temasik (Singapura).

SEBAHAGIAN prajurit Sultan balik ke Tempasuk – Borneo, dan sisanya tetap tinggal di kawasan Kerajaan Riau-Lingga. Di antara mereka menyisir pesisir Batanggangsal, ke Kuala Patahparang, Benteng (sekitar Pasenggerahan), Sungaiundan, Pulaukijang, hingga ke Sungaigergaji (Kotabarureteh) dan Kotabaru Seberida. Ada pula yang menyusur alur ke Batanghari, Jambi. Mereka inilah (sebagaimana saya nyatakan terdahulu dari catatan sekilas ini) yang membawa serta kelintang, music tradisi dari kampung halaman negeri asal mereka.

TOKOH atau pahlawan keturunan Melayu Timo ini dapatlah disebut di antaranya yang ternama Panglima Besar Tengku Sulung, dan Letnan Muhammad Boya yang bermakam di Sungairukan, Kecamatan Enok, Inhil – abang Anjang Deghus Idrus Tintin. Allaahyarham Tuan Guru Sjaich H. ‘Abdurrahman Ja’cob Reteh Inderagiri (Marhum Pasarkembang) menikahi pula Aisyah – puteri keturunan Melayu Timo - menjadi isteri ketiganya, yang di antara anak hasil perkawinan mereka Tuan Guru H, Muhammad Luthfi ulama’ di Pasarkembang, Kecamatan Keritang, Inhil.

MUSIK perkusi ‘kelintang Melayu Timo’ ini, dahulu lazim dimainkan oleh kaum perempuan. Pihak Kerajaan Tempasuk memanfaatkannya untuk menyemarakkan atau memberi semangat prajurit yang sedang berdayung berlayar mengharungi lautan besar menghadang gelombang atau angin sungsang. Tentu saja juga untuk mengelu-elukan prajurit yang bertempur di medan perang.

SEKELOMPOK perempuan yang dahberumur sepuhlah yang kami saksikan saat memainkan  “kelintang Melayu Timo Kuale Patahpaghang” itu, yang dimainkan bersama alat musik gendang dan gung. Nek Siti Aminah binti Hamid (70-an), dan, Nek Semah binti Ketik (90-an), memainkan gendang yang dipegang memasingnya. Tapi, gung  ditalu Cik Li, dan seorang lelalaki lainnya - Ngah Madin Sumalah, memainkan gendang yang paling besar. 
Ada beberapa lagu khas dari negeri leluhur yang mereka nyanyikan, di antaranya Serama, Andok-andokKudidi (sejenis burung yang disebut kedidi pada logatnya), Kedincing, Serame 1 hingga 3, Serame Jawa, Serama Angin, Cak Pumpung, Gubang-gubang, Kayoh, Kisak-kisak, Jande Ngagek Teghung, Kedungkok, Tepai Begelot, dan Sendayung “ Sayangnya, menurutSulaiman Merawi - seorang pemuda sana, semua jenis rentak tersebut, hanya orang tetua yang pandai memainkannya. Itu, waktu setahun yang lalu.

 

KINI, menyaksikan yang satu ini berbeda, yaitu musik “kelintang Melayu Timo’ yang sudahlah langka. Beruntung ada upaya dari Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Riau, menampilkannya kembali bersempena festival, pada helat musik Selasa malam itu. Memudahan, tak sekadar setakat festival (dan mengajukannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda [WBB] saja), tetapi direalisasikan dengan pembinaan kembali kepada generasi kini bersesuaian dengan sebahagian tokoh musik sekelompok kini pula yang energik hendak menggiatkannya.  Semoga saja. (SSSG)**

                                                                                  TaKar, Panam, Pekanbaru,  Selasa10 Robi’ul Awwal 1439

                                                                                  (28 November 2017), pukul 19:13

 

*) Baca: 1) “Jejak Melayu Timor di Reteh: Tung Tong Kelintang Kuala Patah Parang”, Riau Pos,    Ahad 27 Safar 1438 (27  November 2016) 
    2) Misi Mencari Iranum di Reteh Berhasil” yang diungkapkan sehalaman penuh di HarianBorneo Pos , Sabah, Malaysia Timur, Ahad 20Safar 1438  (20 November 2016)




TAG :
tinggalkan komentar
berita terkait

PEKANBARU, SENUJU.COM - Sejarawan, Budayawan sekaligus tokoh masyarakat Riau, Prof Suwardi MS juga angkat bicara menyoal percobaan pembakaran Istana Siak oleh oknum yang belum juga ...

Syamsuar: Pembakar Istana Siak Orang Tak Waras

Rabu, 10 Jan 2018 - 10:20:00 WIB

SIAK SRI INDRAPURA, SENUJU.COM - Pelaku percobaan pembakaran Istana Siak hingga saat ini masih belum ditemukan. Namun sejumlah pihak mengklaim bahwa pelakunya diduga stres atau ...

PEKANBARU, SENUJU.COM - Menindaklanjuti instruksi Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman, Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Riau Yoserizal Zen melihat langsung kondisi Istana Siak pasca dibakarnya patung ...

PEKANBARU, SENUJU.COM - Gubernur Riau, Datuk Seri Setia Amanah, H Arsyadjuliandi Rachman, menyandarkan asa kepada Dewan Kesenian Riau (DKR) sebagai salah satu wadah pencapai Visi ...

Hujan Memberkahi, Dewan Kesenian Riau Resmi Dikukuhkan

Minggu, 31 Des 2017 - 20:54:07 WIB

PEKANBARU, SENUJU.COM - Malam jelang pergantian tahun 2018 menjadi momen Pengukuhan Kepengurusan Dewan Kesenian Riau (DKR) masa khidmat 2017-2022. Pengukuhan sendiri langsung dilakukan oleh Gubernur ...


KABAR TERKINI

bergabung disini
KABAR POPULER