Festival Kelapa Internasional Inhil: Menggaungkan Kejayaan Kelapa yang Meredup Bupati Indragiri Hilir, HM Wardan, saat prosesi simbolik minum air kelapa terbanyak sebagai pemecah rekor Museum Republik Indonesia (MURI), sebanyak 9.576 buah.

Festival Kelapa Internasional Inhil: Menggaungkan Kejayaan Kelapa yang Meredup

Redaksi | Ahad, 17 September 2017 - 20:39:02 WIB
Dibaca: 426 kali 

INHIL, SENUJU.COM - Ribuan masyarakat Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, sejak pagi menenggang beramai-ramai memadati Lapangan Gajah Mada yang berada di pusat kota, dengan masing-masing memegang satu buah kelapa muda yang telah siap minum.

Masyarakat yang didominasi oleh pelajar dari tingkat dasar hingga menengah atas dan perguruan tinggi di Tembilahan ini merupakan peserta pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dalam kategori minum air kelapa terbanyak serentak dengan target 10 ribu buah.

Meski akhirnya tak mencapai target, dengan kurang 424 buah, namun dengan 9.576 buah yang diminum secara serentak ini Pemkab Indragiri Hilir telah berhasil memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Pemkab Sampit, Madura pada tahun 2010 lalu dengan 6700 buah.

"Kita sangat bangga, dengan digelarnya Festival Kelapa Internasional 2017, bersempena hari kelapa internasional, kita juga memecahkan rekor nasional dengan minum air kelapa terbanyak se-Indonesia," kata Bupati Indragiri Hilir, HM Wardan dalam pembukaan FKI 2017, Sabtu (9/9/2017).

Dalam kesempataan yang sama, Pemkab Inhil juga berhasil mendapat penghargaan MURI karena berhasil memamerkan berbagai jenis kuliner baik minuman dan makanan yang berbahan dasar kelapa dengan sebanyak 450 jenis yang berbeda-beda.

Festival Kelapa yang pertama kali digelar di Riau ini merupakan salah satu upaya Wardan dalam menggaungkan kembali kelapa sebagai varietas tanaman mahsyur yang sejak dulu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat nusantara. Apalagi varietas ini memang sangat cocok bagi tipologi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, utamanya di wilayah pesisir.

Indragiri Hilir merupakan daerah dengan industri perkebunan kelapa terbesar dan terluas di Indonesia. Menurut Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Bambang, seluas 13 persen lahan perkebunan kelapa yang di Indonesia berada di Inhil.

Ia jadi komoditas sub sektor unggulan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakatnya sejak puluhan tahun lalu hingga kini. "Perkebunan kelapa terluas di Indonesia itu ada di sini," kata Bambang saat di Tembilahan.

Pemerintah Kabupaten Inhil mengatakan sebanyak 60 persen dari total luas perkebunan di Inhil merupakan komoditas kelapa. Sisanya, ada beberapa komoditas sub sektor lain, seperti kelapa sawit, karet, pinang, kakao, nipah, sagu dan kopi, meski banyak namun tak jadi sub sektor dominan.

Tak berlebihan, sebanyak 70 persen lebih masyarakat Inhil menggantungkan hidupnya dari eksistensi perkebunan ini. "Lebih dari separuh masyarakat Inhil menggantungkan hidupnya dari kelapa. Mulai dari petani hingga pedagang kelapa," ungkap Bupati Inhil, HM Wardan.

Lanjut Wardan, kelapa merupakan varietas tanaman non ampas. Artinya, tak satupun bagian dari pohonnya yang tak memiliki manfaat atau nilai guna bagi manusia. Kepala daerah yang sejak kecil dibesarkan di wilayah perkebunan kelapa ini menuturkan, tiap bagian dari pohonnya mampu disulap menjadi berbagai benda dengan nilai guna tinggi.

"Mulai dari material rumah, kuliner, pernak-pernik, bahan bakar, obat dan alat kecantikan. Dari akar sampai pucuk, semuanya bisa dimanfaatkan," imbuhnya.

 

Direktur APCC: Air Kelapa Adalah Air Tersehat Yang Bisa Diminum Manusia

Salah satu bagian buah kelapa yang paling sering dimanfaatkan adalah air buah kelapa. Dihidangkan dalam kondisi muda dengan daging buahnya yang kenyal, minuman ini merupakan minuman yang paling banyak dijual oleh masyarakat di Kabupaten Inhil hingga menjadi ciri khas daerah Negeri Seribu Parit ini.

Selain menyegarkan, air kelapa ternyata juga memiliki kandungan kesehatan yang cukup tinggi bagi tubuh. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Prima Pekanbaru, Nia Tiffany Harka mengatakan dalam kandungan air kelapa, terdapat beberapa zat gizi yang berdampak baik bagi tubuh manusia jika dikonsumsi secara rutin.

"Dalam satu butir air kelapa terdapat karbohidrat, protein, kalsium dan elektrolit. Namun kelapa muda lebih banyak kandungan karbohidratnya ketimbang kelapa tua sehingga air kelapa muda menyumbang energi kalori lebih besar," kata Nia saat dihubungi.

Sedangkan kalsium dan elektrolit pada air kelapa baik untuk isotonik tubuh, mencegah dehidrasi, yang efeknya cepat seperti cairan infus pada pasien. Dua kandungan ini sangat bermanfaat bagi olahragawan serta meningkatkan imun bagi penderita penyakit demam berdarah.

Selain itu, air kelapa juga antidotum yang sifatnya melarutkan racun dalam tubuh lewat urin. Dalam tradisi masyarakat, air kelapa memang kerap digunakan sebagai penawar bagi racun yang tak sengaja masuk dalam sisten pencernaan tubuh. Termasuk bagi masyarakat Inhil sendiri.

Namun, Nia tak menganjurkan bagi masyarakat untuk menjadikan air kelapa sebagai pengganti air putih. Karena terlalu banyak mengkonsumsi air kelapa dapat menyebabkan diare.

"Untuk orang dengan penurunan fungsi ginjal juga tidak dianjurkan banyak mengkonsumsi karena dapat berdampak hiperkalemia," urai alumnus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini.

Hiperkalemia sendiri adalah kondisi ketika kadar kalium dalam aliran darah sangat tinggi. Akibatnya, penderita hiperkalemia dapat merasakan gejala mual, badan lelah dan otot terasa lemah, serta kesemutan.

"Untuk kondisi orang normal, dianjurkan untuk mengkonsumsinya paling banyak satu butir perhari untuk mendapatkan hasil terbaik bagi tubuh," jelas Nia.

Ajakan meminum air kelapa untuk masyarakat Riau juga digaungkan oleh Eksekutif Direktur Asia Pacific Coconut Community (APCC) Uron Neil Salum saat di Tembilahan. Ia mengatakan air kelapa merupakan minuman pengganti paling sehat dari seluruh minuman yang ada di dunia.

"Coconut water is the most healty drink for people in the world (air kelapa adalah minuman paling sehat yang ada di dunia-peny)," kata Uron di hadapan ribuan masyarakat Tembilahan, Kabupaten Inhil saat pembukaan FKI 2017 Inhil.

Kepala Dinas Perkebunan Inhil, Eddiwan Shasby, mengatakan air kelapa di Inhil baru dimanfaatkan dalam beberapa bentuk olahan saja oleh masyarakat. Selain dijajakan dalam bentuk buah, air kelapa juga diolah menjadi nata de coco dan gula merah.

"Pengembangan bentuk olahan masih kita lakukan. Hanya saja masih terkendala pada industrinya," kata Eddi.

 

Masalah Kelapa, Dari Ekspansi Sawit Hingga Intrusi Air Laut 

Kepala Dinas Perkebunan Inhil, Eddiwan Shasby, sangat berharap kelapa mampu terus bertahan dari gempuran ekspansi bisnis industri kelapa sawit yang masih bertalian dekat dengan kelapa. Apalagi kini, permintaan kelapa di pasar internasional kian meningkat sehingga menjadi peluang yang baik bagi daerah penghasil kelapa seperti Inhil untuk mengambil peran lebih banyak.

Salah satu cara yang Wardan ambil untuk menujukkan komitmennya terhadap penyelamatan dan pengembangan perkebunan kelapa rakyat di Kabupaten Indragiri Hilir adalah menjadi tuan rumah FKI 2017 ini.

Acara berskala internasional ini ditujukan untuk menjaring investasi asing dan dalam negeri dalam pengembangan perkebunan kelapa Inhil yang menjadi daerah penghasil kelapa terluas dan terbesar di Indonesia.

Dengan tagline, Negeri Hamparan Kelapa Dunia, Ia berencana ke depannya untuk bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk membangun pusat penelitian dan pengembangan kelapa di Inhil. Dengan modal sebagai perkebunan kelapa terluas di Indonesia, Wardan yakin mampu mewujudkannya di waktu mendatang.

"Kita membutuhkan peran serta dari investasi swasta serta bantuan dari pemerintah pusat atas penyelamatan perkebunan kelapa Inhil yang 23 persennya kini mengalami kerusakan akibat intrusi air laut dan penuaan," kata Wardan dalam pembukaan Festival Kelapa Internasional di Tembilahan, Inhil, Sabtu (9/9/2017).

Luas perkebunan kelapa di Inhil sendiri menurut data Dinas Perkebunan Kabupaten Inhil mencapai 430.068 hektare yang seluruhnya merupakan milik petani lokal. Sedangkan lahan yang dikuasai dan dikelola oleh korporasi luasnya hanya 34.111 hektare.

Namun dari hampir setengah juta hektare perkebunan kelapa rakyat itu, sekitar 100.254 hektare kini tak dapat aktif berproduksi. Alasannya adalah faktor usia pohon yang sudah tua di atas 40 tahun yang hingga kini masih membutuhkan biaya untuk dilakukan peremajaan.

"Sedangkan alasan lainnya intrusi air laut," kata Kabid Sarana dan Prasarana Disbun Inhil Ngadiyo.

Intrusi air laut ini terjadi akibat tak berfungsinya trio tata air yang selama ini digunakan untuk mencegah masuknya air laut ke perkebunan masyarakat. Trio tata air itu antara lain; tanggul-tanggul di sepanjang kanal atau disebut masyarakat dengan parit, normalisasi parit yang mengalami penyempitan dan pendangkalan dan terakhir pintu klep yang berfungsi mengatur debit keluar masuknya air pasang surut di muara parit.

Selama ini pemerintah sebenarnya telah mengupayakan normalisasi trio tata air ini. Namun dengan keterbatasan APBD, upaya ini belum optimal mengentaskan ancaman kerusakan perkebunan kelapa di kabupaten yang berjuluk Negeri Seribu Parit ini.

"Meski sulit, beberapa tahun belakangan ini persentase perbaikan sudah jauh lebih baik. Kita juga terus mencari bantuan dari berbagai pihak agar kelapa Inhil terus menjadi komoditas andalan di Inhil ini," harapnya.

 

Peran Industri Berdayakan Petani Kelapa

Sementara itu, Eksekutif Direktur Utama PT Pulau Sambu (Sambu Group) yang menjadi pemasok utama PT Kalbe Farma Tbk dengan produk Hydro Coco-nya mengatakan industri kelapa di Inhil membutuhkan peran pelaku usaha dalam mengembangkan perkebunan kelapa rakyat.

Sejauh ini, banyak pelaku usaha yang tak memikirkan nasib petani kelapa yang ada di sekitarnya karena hanya berorientasi pada mencari laba bisnis secara maksimal. Padahal, iklim industri yang baik akan tercipta ketika masyarakat yang ada di sekitarnya sudah sejahtera.

Pria berkacamata ini menjelaskan ada sistem yang rusak dalam industri nasional. Pasalnya, meski komoditas produksi terus naik harganya di pasar lokal dan global, namun petani tetap saja miskin.

"Kita semua harus bisa memotong makelar-makelar nakal yang selama ini selalu mempermainkan harga kelapa dari petani hingga menjadi rendah sekali. Padahal harga di pasaran jauh lebih tinggi. Perlu upaya kita dan pemerintah," kata Inoku.

Selain itu, industri perkebunan makro juga memiliki tanggung jawab atas terbinanya masyarakat petani kelapa sekitar yang lebih maju. Upaya itu bisa dilakukan dengan memberikan petani metode penanaman atau pemeliharaan kelapa yang lebih modern dan efektif yang memberikan keuntungan pada petani.

"Kita berkomitmen sejak dulu untuk memberdayakan masyarakat petani kelapa sekitar dalam membangun perkebunan yang baik dan produktif. Kita berharap hal ini mampu mendorong dalam pengentasan kemiskinan petani kelapa di Inhil," jelas Inoku saat menjadi pembicara seminar internasional dalam rangkaian agenda FKI 2017 di aula DPRD Inhil.

Laporan: Zuhdy

Editor: Redaksi


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER