Riau Mulai Bangkit, Tenaga 'Terkuras' Selesaikan Masalah Masa Lampau Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi Rachman.

Riau Mulai Bangkit, Tenaga 'Terkuras' Selesaikan Masalah Masa Lampau

Redaksi | Kamis, 14 September 2017 - 09:27:38 WIB
Dibaca: 267 kali 

PEKANBARU, SENUJU.COM - Melakukan penilaian terhadap perekonomian suatu daerah tidak bisa dengan mengukur dari kondisi kekinian, karena parameter ekonomi tidak terjadi sesaat, akan tetapi melalui proses akibat kondisi dan dampak tahunan. Kerja 4 - 5 tahun lalu baru berdampak sekarang. Dan kerja sekarang baru bisa terlihat 4-5 tahun mendatang.

Pemerintahan Riau yang dipimpin Arsyadjuliandi Rachman saat ini pada kenyataannya adalah Pemerintahan Recovery (cuci piring). Sumberdaya dan tenaga terkuras untuk menyelesaikan persoalan masa lalu, diantaranya:

 

1. Proyek Mangkrak Jembatan Siak IV yang memerlukan pembenahan administrasi, dan kajian teknis ulang.

2. Pembayaran utang Stadion Utama Riau dan infrastruktur dengan segala persoalan pasca OTT pemerintahan sebelumnya sudah mulai diangsur/dibayar yang ternyata cukup menguras belanja APBD, bahkan harus merasionalisasi alokasi belanja  penting lainnya untuk kebutuhan masyarakat.

3. Tata Ruang Wilayah Prov Riau yang berlarut larut dan menjadi penghambat realisasi investasi. Dibahas dan dikoordinasi bertahun tahun. Kini sudah ada kemajuan tinggal pengesahan.

4. Permasalahan BUMD terutama RAL yang tidak saja bangkrut dan meimbulkan masalah bagi pemegang saham lainnya, tapi juga banyak beban hutang pajak. Ini harus diurus dan perlu kehati-hatian.

5. Puluhan beban akibat pembiaran kasus masa lalu yang inkrah kalah di pengadilan. Diantaranya Kasus Tanah UNRI, Tanah ex Kanwil Pariwisata dan Hutang hutang Pasca PON Pemerintahan sebelumnya. Itu semua beban pemerintahan saat ini. Persoalannya bagi Pemerintahan Andi Rachman bukan hanya membayar, tapi berat dan harus hati-hati menyelesaikan administrasinya, masalah teknisnya, dampak turunannya. Itu semua dengan komitmen 'Ikhlas Membenahi dan Membangun Riau.

 

Melihat dan membandingkan perekonomian Riau juga tidak sesederhana yang di 'judgment'. Perekonomian Riau sudah terbangun dan ditopang sektor Migas, pertanian /perkebunan dan pertambangan.

Sektor-sektor tersebut sangat rentan dengan pengaruh harga pasar global. Dampaknya sangat terasa bagi Indonesia, tentunya karena Riau share terbesar di sektor-sektor itu, maka Riau yang paling terdampak kontraksi perekonomian.

Hal ini juga dapat dilihat dari Analisis sektoral. Dengan mengenyampingkan sektor Migas, artinya kalau perekonomian Riau tanpa migas angka pertumbuhannya mencapai 4,37 persen YoY. Itu masih dipengaruhi konstraksi sektor pertanian/perkebunan yang diketahui kontribusinya terhadap perekonomian cukup besar. Andi Rachman dinilai berhasil dan terus mendorong pertumbuhan sektor jasa untuk menopang perekonomian daerah agar lebih berdaya tahan.

Bahkan hasil terakhir Analisis BI diperkirakan mulai triwulan III tahun 2017 perekonomian Riau mulai membaik karena ditopang permintaan domestik yang kuat dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dengan migas sekitar 3,19 persen YoY yang didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah di akhir tahun dan peningkatan ekspor.

Perlu diketahui juga bahwa perekonomian Riau memberikan share terbesar kelima nasional (5,04%) bersama sama DKI Jakarta (17,36 %), Jawa Timur (14,60), Jawa Barat (13,13 %) dan Jawa Tengah (8,6%). Artinya andil ekonomi Riau terbesar pertama di Sumatera atau di luar Pulau Jawa. 

Membandingkan ekonomi Riau dinilai kurang tepat dengan Provinsi tetangga seperti Sumbar, Jambi dan lainy yang berbeda potensi dan keunggulannya. Bandingkan Riau adalah Kaltim dan ternyata kinerja ekonominya hampir sama dengan Riau. Bahkan untuk indikator-indikator tertentu Riau lebih unggul.

Untuk diketahui bahwa serapan APBD Riau sudah membaik. Dari 63 persen tahun 2014, 68 persen tahun 2015 menjadi 84, 19 persen tahun 2016. Hasil itu semua dengan kerja keras, memacu program sambil membenahi masalah-masalah masa lalu. Perencanaan, penganggaran dan pengelolaan asset yang diurus Pemerintahan Andi Rachman sudah kembali ke track (on the track). Pengelolaan aset dari kondisi amburadul, tidak terinventarisasi, tidak terurus, tidak tertib, saat ini sudah mulai tertib. Sebelumnya belum ada nilai buku yang valid, bertahap dibenahi dari nilai perolehan Rp9 triliun tahun 2015, Rp25 triliun tahun 2016 dan hasil LHP BPK tahun 2017 tercatat dan tervalidasi Rp33 triliun. Itu semua adalah kerja 'Recovery' yang membutuhkan kesungguhan dengan niat tulus ikhlas membenahi administrasi pemerintahan agar bisa membangun Riau lebih baik untuk selanjutnya.(adv/yan)


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER