Ketua Pemuda Muhammadiyah Riau Minta Penghargaan Nobel Aung San Su Kiy Dicabut Jhon Hendri Hasan

Ketua Pemuda Muhammadiyah Riau Minta Penghargaan Nobel Aung San Su Kiy Dicabut

Redaksi | Kamis, 07 September 2017 - 00:27:04 WIB
Dibaca: 399 kali 

PEKANBARU, SENUJU.COM - Konflik yang terjadi di Provinsi Rakhine, Mnyanmar terhadap etnis Rohingya sampai saat ini terus terjadi dan memanas. Terhadap kejadian tersebut, banyak pihak yang turut prihatin.

Salah satu keprihatinan ditunjukkan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Riau. Mereka menggelar rapat bersama tokoh lintas agama yang ada di Provinsi Riau di Aula Kemenag RI Riau, Rabu (06/09/2019).

Salah satu yang hadir, Ketua Pemuda Muhammadiyah Provinsi Riau, Jhon Hendri Hasan mengatakan, Aung San Su Kiy penguasa Myanmar padahal pernah menerima hadiah Nobel Perdamaian dari  Kementrian Nobel Dunia atas perjuangannya penegakkan HAM dan segalanya.

"Tapi kenyataannya yang terjadi saat ini kejahatan kemanusiaan di negaranya atau di depan matanya sendiri tidak berbuat apa-apa," ucap Jhon Hendri kepada Senuju.com.

Kejadian ini, lanjut Jhon Hendri, bukan terjadi baru-baru ini saja akan tetapi sudah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Padahal, Aung San Su Kiy adalah penguasa di Myanmar. Tapi, apa yang dilakukannya setelah menerima penghargaan nobel tersebut, malah dia hanya menutup mata  terhadap kejahatan-kejahatan kemanusian  yang dilakukan oleh militernya.

"Dengan kejadian tersebut dapat kita lihat dia  (Aung San Su Kiy) menerima nobel itu berarti hanya memikirkan atau mementingkan dirinya sendiri. Kalau dia memikirkan nilai kemanusiaan, tentu dia tidak hanya melihat kelompoknya saja akan tetapi akan melihat seluruhnya dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di negaranya. Saat ini nyatanya kejahatan kemanusiaan terjadi di negaranya," ucapnya lagi.

Selanjutnya, Jhon Hendri mengatakan, pada pertemuan ini, kita sangat setuju dengan kesepatan yang telah disetujui bersama. Selain itu, kita juga membenci dan mengutuk kejahatan kemanusian yang terjadi terkhususnya untuk etnis Rohingya. 

"Yang terjadi di Myanmar itu merupakan genosida/pembunuhan etnis," ucapnya.

Lebih lanjut, Jhon Hendri Hasan meminta kepada pemerintah agar betul-betul serius melakukan tindakan dalam melakukan diplomasi untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Rohingya.

"Kita juga mendesak PBB turun tangan langsung dan tidak membiarkannya karena ini bukan lagi tragedi kemanusian akan tetapi kejahatan kemanusiaan. Kalau kejahatan kemanusian itu, bisa kita lihat di medsos yakni anak-anak yang ditembak, tua muda dibunuh, dan juga wanita-wanita diperkosa. Kalau itu dibiarkan, sangat menimbulkan kejahatan di negara kita dan itulah yang tidak kita inginkan," ucapnya.

Jhon Hendri Hasan juga mengharapkan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan terkhusus kepada masyarakat Riau agar tidak terprovokasi atas kasus yang terjadi di Myanmar dan memindahkan kasus tersebut ke Indonesia.

"Artinya masyarakat di Indonesia jangan terprovokasi. Kita harus bisa menahan diri karena itu bisa membuat kekacauan. Selama ini, kita di Indonesia kan sangat toleran, jadi jangan dengan kejadian di Myanmar kita pula yang terprovokasi dan akhirnya melakukan tindakan-tindakan yang sama terjadi di Myanmar," pungkasnya. (Dani)


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER