Shoumu Romdohon dan Zakat Fithroh: Keto’atan Spritual dan Kesolihan Sosial Ilustrasi.net

Pe-TUAH ROMADHON

Shoumu Romdohon dan Zakat Fithroh: Keto’atan Spritual dan Kesolihan Sosial

Redaksi | Senin, 19 Juni 2017 - 08:15:38 WIB
Dibaca: 438 kali 

Oleh Tuan Guru Haji Syafruddin Saleh Sai Gergaji

 

IBADAH bukan hanya keto’tan spritual (penghambaan pengabdian) kepada Allaah saja, tetapi mesti memberikan dampak pribadi kepada sesama dan lingkungan – rohmatn li al-‘alamiin. Kualaitas vertikalitas ‘ibadah sebagai habl al-min Allaah, mewujudkan habl  al-min al-nas pada horisontalitasnya. Kekuatan keto’atan spritual itu berkaitkelindan,  dekat dan erat dengan kesolihan sosial terhadap kepedulian kepada sesama.

RANGKAIAN Rukun Islam menyulam antara keto’atan spritual dengan kesolihan sosial itu dengan amat sanggam. Dua kalimah syahadah (syahadataini) menjalin habl min Allah dengan  habl min al-nas yang senantiasa wajib diulang-ulang sembilan kali sehari semalam pada tiap sholat wajib, dan saat sholat sunat. Ketika sholat melaksanakan keto’atan terhadap perintah Allah, ada do’a kepada sesama: ihdina al-shirot al-mustaqim, dan al-salamu ‘alaina...(“tunjukilah kami jalan yang lurus”, dan “selamatkanlah kami...”), berpuasa pula dari ucapan-gerak-arahhadap yang tidak dibenarkan, yang menzakatkan waktu dengan meningalkan aktifitas rezeki usaha duniawiyah, dan senantiasa sah jika menghadap qo’bah yang wajib thowaf mengelilinginya ketika berhaji dan berumroh.

KETO’ATAN SPIRITUAL bersyahadat-bersholat-berpuasa (shoumu romadhon), dirangkai-simpai antara kebersamaan tekad dan janji (syahadat) dengan keto’atan menghadapkan kemantapan keto’atan arahhadap-bahasa-gerak-do’a (sholat) disertai bersama-sama merasakan letih haus dan lapar (puasa) dengan berbagi rezeki berupa makanan pokok (zakat fithroh). Gerak lahiriyah dan resa bathiniyah itu diwujudkan dengan kepedulian berbagi rezeki yang menjadi materi pokok kehidupan berupa memberikan makanan pokok kepada yang kekurangan (fakir miskin – fuqoro’ wa al-masakin).

KESOLIHAN SOSIAL menjadi buah keto’atan spiritual yang mensucikan jiwa individual yang melepasretaskan keegoan kepedulian perhatian hanya kepada diri pribadi saja: menjadi kepedulian dan perhatian kepada sesama - meski bukan keluarga. Kesolihan spritual itu memintal pengabdian individual dengan kebajikan komunal terhadap sesama. Pantas dan pas jika Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam tegas bersabda:

 

“(Amat sangat) tidak pantas Anda mengaku diri beriman,

  jika tidak ada pada diri perhatian dan rasa kepedulian

  sebagaimana kepada diri begitu pula kepada sama insan.”

 

PERHATIAN UTAMA terhadap nasib dan keadaan kehidupan orang lain mesti menjadi kepedulian yang tertanam dalam pada sanubari tiap mukmin sejati. Sebab, ajaran dari al-Diin al-Islaammemang  memberikan penekanan (stressing) perhatian terhadap keprihatinan orang lain. Kemiskinan dan keterlantaran (ke-dhu’afa’-an) dipagari dengan sikap saling memberi supaya tidak terjadi pembiaran. Sikap ini melekap mantap dan merasuk di ceruk lubuk sukma dari rusuk jiwa ke-taqwa-an insan beriman dari pati pengabdian ‘amaliyah selama Romadhon, yang harus dipertahankan terus hingga nafas lampus pada akhir hayat.

HARUS DISADARI, zakat (fithroh) sebagai pemberian wajib. Namun cukupkah pemberian hanya pada makanan pokok tanpa disertai lauk-pauk dan tanpa busana yang dikenakan ketika menikmatinya? Tentu tidak. Maka, keto’atan spiritual mesti disertai kesolihan sosial yang tidak sebatas memberikan makanan pokoknya saja. Haruslah tulus pula pemberian wajib itu diikuti pemberian sunnah berupa lauk-pauk peneman menyantap makanan pokok yang dinikmati dengan pakaian yang menutup aurot dari sodaqoh sunat yang juga menyertainya. Pemberian yang diwajibkan Allaah dan yang ditauladankan Rosulullaah itu, menggugah kesadaran pemberian sunnah sebagai penyempurnaan dari penyucian jiwa dari sikap pelit dan melarutkan kedekut dari hati sanubari.  Begitulah seyogianya. Semoga. Salam. ***

 

                                                                                                                                      Senin, 24 Romadhon 1438 (19 Juni 2017)

 

Tuan Guru Haji Drs. Syafruddin Saleh Sai Gergaji, MS - da’i-sastrawan-budayawan,  Dewan Redaksi  Senuju.com  dan Riaukepri.com - Koordinator Bidang Agama dan Nilai-nilai Adat (Korbid AGNiA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Provinsi Riau. Ketua IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pekanbaru, Ketua Dewan Pengawas Idaroh Kemakmuran Masjid Indonesia (IKMI) Korwil Kota Pekanbaru, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MT PWM) Riau, pensyarah (dosen) yang kini telah mengundurkan diri sebagai Pengawai Negeri Sipil (sejak April 2015). Pernah aktif sebagai wartawan, dan menggagas Semestariau.com (2014).


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER