Zakat, Kedermawanan, dan Ketaqwaan Haji Ispiraini Hamdan, Lc.

TAbirjum’AT

Zakat, Kedermawanan, dan Ketaqwaan

Redaksi | Jumat, 16 Juni 2017 - 08:31:00 WIB
Dibaca: 755 kali 

Oleh Haji Ispiraini Hamdan

 

DI Batam, ada orang kita Melayu yang Allaah berikan kelebihan rezeki. Sekali waktu berankas (peti besi) tempat dia menyimpan uang dicuri orang. Lesaplah uang dia lima ratus juta pada masa cuma sekejap – setengah milyar. Pergilah dia  yang ‘apas malang’ itu menjumpai seorang ustadz nak bincangkan pasal duit dia yang diambik si pencuri.

              Kalau tak berada ada, tak akanlah tempua bersarang rendah,

Si Ustadz mengajukan pertanyaan yang takde kena mengena dengan duit yang hilang. Mereka berbincang bual, bertanya jawab. Ustadz berupaya mengajuk yang tersuruk di sebelik peristiwa. Dia ajak berdialog, tapi bukan nak berolok-olok. Pantang pulak Ustadz belaku tak semenggah tu.

“Jangan-jangan awak selama ni tak berzakat, tak?” tukas Ustadz berloghat Melayu yang lugu, tapi jitu memangkah ke arah hati qolbu. 

“Tiap-tiap tahun saya berzakat, Ustadz …!” jawab orang kaya tadi meyakinkan.

 “Zakat yang mana satu?” selidik Ustadz bukan menyidik gaya polisi kena polusi.

“Zakat yang 2,5 kilo di malam raya tulah. Zakat mana lagi yang nak saya beri?” jawab si Kaya tanpa rasa bedosa, menahan perasaan yang diperas remas Ustadz.

Ustadz pun menjelaskan kepada dia dengan ucapan tegas, bahwa selain zakat fithroh yang ditunaikan saban tahun ketika Romadhon, ada juga zakat yang lelainnya. Zakat itu berupa zakat harta, dan zakat penghasilan.

Setelah dijelaskan dengan bijak-bestari, Orang Kaya tu tergugah kesadaran berzakatnya. Dia zakatkan 70 juta. Pergilah pula dia  berhaji laki-bini - dengan orang-rumahnya yang kacak-lawar (ups, cup!) tahun itu juga. Nak bertaubat kepada Allaah memohon keampunan, konon, dek kesilapannya selama ini: tak tau  ada kewajiban zakat harta dari kekayaannya.

Empat bulan selepas haji, Orang Kaya itu kembali menjumpai  Ustadz. Dia bukan nak ceritakan pasal duitnya yang tak balek-balek lagi, tapi kabar bahwa dia baru saja sain kontrak dengan perusahaan Malaysia yang nilai keuntungannya 4 milyar.

“Allaahu Akbar! Hilang lesap 500 juta, rupanya tak ranap. Allaah ganti 4 milyar. Subhana Allaah ..,” Ustadz melafaz takbir dan tasbih, tanpa maksud Orang Kaya menyisihkan bagian untuk dirinya. Tulus tajk mengharap fulus dengan ‘aqal bulus.

Ternyata, selepas dia tunaikan zakat hartanya, sejak itu sampai hingga kinen kini ni Orang Kaya tu malah jadi orang yang sangat dermawan – sebelum itu dia pun tak kedekut-kedekut sangat, cuma tak berzakat tersebab ketidaktahuannya. Tahun kepetang dia berzakat sehingga sejumlah 200 juta lebih. Masya’a Allaah …!

Benarlah apa yang dijanjikan Allaah dan Rosul-Nya, bahwa kita takkan mungkin miskin, apalagi menjadi papa kedana, gegara berzakat dan bersedekah. Maka gerahlah diri  segera berzakat saat hitung haul dan bilangannya mencapai nisab kewajiban. Jangan berlambat-lambat melerek-lerekkan hak si asnaf yang boleh memeroleh zakat itu.

Allaah berfirman:

 

Perumpamaan orang-orang yang berinfaq dengan harta di jalan Allaah, adalah seperti biji yg menumbuhkan 7 tandan dan dari tiap-tiap tandan itu tumbuh 100 biji lainnya. Allaah akan melipatgandakan infaq tersebut dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Dzat Yang Maha Luas dan Maha Mengetahui.” (Q.S. 2,  al-Baqoroh : 261)

Rosulullaah  juga bersabda; “Sedekah, tidaklah mengurangi harta (Anda).” (HR. Muslim).

 

Saudaraku seiman,

Ketika Allaah wajibkan puasa Romadhon, Allaah sebutkan pula bahwa puasa itu akan menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan pula kepada orang-orang sebelumnya, agar Anda bertaqwa” (Q.S.2,  al-Baqoroh: 183).

Lantas, macam apakah kepantasan orang yang bertaqwa itu…? Allaah jelaskan diantara ciri-cirinya pada Suroh Ali ‘Imroon:

Bersegeralah Anda mencari ampunan dari Rabb Anda, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk para hamba yang bertaqwa. (Yaitu) para hamba yang menafaqohkan (hartanya), ketika berkelapangan dan saat  sempit.” (Q.S. 3,  Ali Imroon : 133-134)

Jadi, bila kita nak tau macam mana kualitas ‘ibadah Romadhon kita, tengoklah apakah selepas Romadhon ini kita menjadi orang yang dermawan, atau sebaliknya makin bakhil: dengan berbagai macam sebutan: lokek, kikir, pelit, cekil, kedekut…?

Bila makin dermawan, mudah berinfaq dan rajin bersedekah, in sya’a Allaah, kita diterima sebagai hamba-Nya yang bertaqwa. Andai sebaliknya, kalau belanja ke pasar duit habis ratusan ribu tak kesah, beli pulsa sampai seratus ribu bahkan lebih daripada itu sebulannya tak masalah - tapi bila nak sedekah 10 ribu pun susah bukan main, h’a … curigailah diri sendiri bahasa iman dah dikebiri syaithon dengan menghembuskan secara halus kecintaan dunia yang selap seselap-selapnya.

 

          Berzakat janganlahberhati berat

         Bukan membantu tapi kewajiban syari’at

 

         Bersedakah janganlah pula mengupat

         Sebanyak sedikit seikhlasnya niyat

 

         Rezki di dunia berganti berlipatganda

         Di Akhirat kelak memeroleh Jannah jua

 

Nah, sungguh Romadhon tahun ini kita tak hendak termasuk di antara orang-orang yang gagal karena tenggelam karam dalam ujian Allaah. Dek takut nianlah akan Allaah purukkan ke ceruk buruk di kerak Neraka, kita harus tulus bertungkus-lumus ber’ibadah menyesah komos dosa diri. Begitulah …!

Wallahu a’lam… ! **  

 

Haji Ispiraini Hamdan, Lc., Putrajati Inderagiri Bagian Selatan kelahiran 12 Muharram 1399 H. Aktif berdakwah, terutama di Provinsi Kepulauan Riau. Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepri. Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Da’I Indonesia (PD Ikadi) Kota Batam, Kepri.


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER