'Puisi Seputih Puasa', 'Bius Penenang' dari Para Penyair Riau

Tadarus Puisi

'Puisi Seputih Puasa', 'Bius Penenang' dari Para Penyair Riau

Redaksi | Selasa, 06 Juni 2017 - 17:31:22 WIB
Dibaca: 386 kali 

PEKANBARU, SENUJU.COM - Tadarus puisi sudah menjadi tradisi setiap Ramadan bagi penyair atau sastrawan Riau. Maka, para penyair Riau bersama penyinta puisi dari berbagai komunitas, menggelar Tadarus Puisi. Kegiatan yang dilaksanakan Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) bersama UKM Batra Unri di halaman rektorat ini, mengusung tema 'Puisi Seputih Puasa'. Puisi yang dibacakan merupakan puisi religi karya berbagai penyair Indonesia dan Riau. Selain pembacaan puisi tunggal, juga ada musikalisasi puisi oleh Gendul.

Kegiatan diawali dengan berbuka bersama di halaman terbuka, dengan konsep keterbukaan serba putih, sesuai dengan tema. Sastrawan Riau, Bambang Kariyawan, sudah datang sejak petang. Usai maghrib, makan malam bersama, salat Isya dan tarawih, menyusul penyair lainnya berdatangan. Di antara mereka, Grivent, Mosthamir Thalib, Gp Ade Dharmawi, Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) yang juga Plt Kadis Kebudayaan Riau Yoserizal Zein, Budayawan Riau, Al Azhar, Ketua Dewan Kesenian Kampar Syarifuddin atau Arif Subayang, Hang Kafrawi, dan masih banyak lainnya.

Puisi karya Ahmadun Yose Herfanda berjudul 'Sembahyang Rumputan', dibacakan salah satu peserta Tadarus Puisi. Begitu juga dengan puisi berjudul Idul Fitra karya Soetardji Calzoum Bachri yang dibacakan budayawan Riau Al Azhar. Kata-kata dalam kedua puisi tersebut seolah mengusir suasana yang hiruk pikuk menjadi lebih tenang, seolah menjadi bius yang menenangkan. Alunan malalak yang dibawakan Ketua Dewan Kesenian Kampar, Arif Subayang dan puisi qurani oleh Ade Dharmawi dengan iringan zikir, membuat pertunjukan puisi malam itu semakin bervariasi.

Berbagai komunitas sastra dan seni, juga meramaikan tadarus tersebut. Antara lain, Community Pena Terbang (Competer), Bahtera Kata, Latah Tuah, Matan, FLP, dan Sanggar Badano. Berbagai komunitas non seni sastra juga banyak, seperti Kelana Riau, MTMA Riau, Backpacker Riau, PGI Riau, LPE Riau dan berbagai komunitas pencinta alam. Kedatangan para komunitas ini tersebab Hari Senin itu merupakan Hari Lingkungan Hidup.

"Banyak sahabat dari berbagai komunitas yang kami undang untuk hadir bersama, termasuk komunitas pencinta alam karena kebetulan hari ini (kemarin, red) merupakan hari lingkungan hidup. Jadi, selain puisi putih, kita sarankan juga untuk menggaungkan puisi hijau di panggung ini. Khusus untuk penyair atau sastrawan, ini memang undangan terbuka umum untuk mereka. Jadi, semuanya sudah kita tahu semestinya. Bahkan di grup WA Majelis Sastra Riau juga sudah berkali-kali kami sampaikan," kata Pimpinan KSRS, Kunni Masrohanti.

Kunni juga menyampaikan rasa terima kasih kepada sastrawan dan seniman yang hadir pada malam hari itu. Sebagai komunitas, ia dan kawan-kawannya menyadari atas segala kekurangan, termasuk jamuan dan layanan selama kegiatan berlangsung. "Sekecil apa pun silaturrahmi, itu sangat indah. Puisi merupakan salah satu jalannya. Apalagi puasa, semoga puisi memberi sinaran dan inspirasi bagi semua. Semoga berkah," sambung Kunni.

Ketua Dewan Kesenian Riau, Yoserizal Zein, yang datang sehabis tarawih bersama Budayawan Datok Seri Al Azhar, menyebutkan bahwa tadarus puisi di Riau sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. "Tadarus Puisi sudah menjadi tradisi bagi penyair atau sastrawan Riau. Ini harus dipertahankan karena selain memupuk rasa kebersamaan sesama sastrawan, juga kompromi puisi-puisi islami. Ke depan hendaknya bisa melibatkan lebih banyak penyair lagi," harapnya.(*/yan)


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER