Falsafah Ritual Kearifan Lokal: Dandan Solek Hewan ‘Aqiqah Sebelum Disembelih Giovandi bersama YAB Datuk Seri Setia Amanah H Arsyadjuliandi Rachman bersama Tuan Guru Datuk Haji Husin, dan Tuan Guru Datuk Haji Syafruddin Saleh Sai Gergaji, berbincang sebelum penyembelihan hewan 'aqiiqah. (Foto: Dani/ Senuju.com)

Falsafah Ritual Kearifan Lokal: Dandan Solek Hewan ‘Aqiqah Sebelum Disembelih

Redaksi | Sabtu, 22 April 2017 - 19:09:32 WIB
Dibaca: 577 kali 

WALAUPUN dah berumur 86 tahun lebih sedikit, Tuan Guru Datuk Haji Husin tak tampak uzur. Berperawakan sedang, tapi tidak tonjang, malah bertinggi tubuh agak pandak. Dialah yang diharap melakukan penyembelihan terhadap empat ekor kambing, hewan untuk ‘aqiqah dua orang cucu YAB Datuk Seri Setia Amanah -  Gubernur Riau Ir H Arsyadjuliandi Rachman, MBA beserta Puan Isteri Datin Hajjah Sisilita, Orangtua itu bersedia, asalkan syarat yang diajukannya menurutkan alur patut menyusur adat dapat diikut. 

BERUNTUNG, saranan itu toh disampaikan  justru  kepada orang yang tepat, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau - Tuan Yoserizal Zen. Dia tidak merutuk, tapi mengangguk mengiyakan. Sedikit keraguan yang mencuit hatinya, ditahankan tak diucapkan. Ditekannya rasa itu supaya tak menyinggung bathin Tuan Guru Datuk Haji Husin, dek sebutnya: resam adat tak boleh tenggelam. (Hal itulah yang disampaikannya kepada Tuan H Kasiaruddin – Asisten 2 Setdaprov Riau, yang menelangkaikannya dengan Tuan Yos).  

LAMA NIAN sudah resam adat Melayu yang menyertai penyembelihan hewan ‘aqiqah tak lagi dilakukan. Masyarakat pendukung adat  bagai telonsong lancung melupakannya. Sertamerta saja, upacara itu kinen hendak dimunculkan kembali supaya dapat menyembul semula. Tak berhati berat, Sang Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan  menerima syarat karena bersesuaian dengan bidang kerja di Dinas Kebudayaan yang dipimpinnya.

MAKA, dibincangkanlah ihwal itu terlebih dahulu oleh Datuk Yos (lelaki yang enggan menyertakan gelar kebangsawanan di pangkal namanya yang juga sastrawan itu) kepada beberapa tetua adat untuk bertanya dan merembukkannya. Dipintanya pula setelah itu petuah Tuan Guru Datuk Haji Syafruddin Saleh Sai Gergaji yang ada hubungan famili jauh dengannya. Tuan Guru ini Koordinator Bidang Agama dan Nilai-nilai Adat Lembaga Adat Melayu (Korbid AGNiA LAM) Riau, yang tidak pulak sekadar ulama’ tetapi juga sastrawan-budayawan.   

DANDAN SOLEK binatang sembelihan ‘aqiqah, itulah sebutan istilah adatnya. Banyak orang yang tak mengetahuinya lagi, karena memang resam itu hampir tak pernah hadir pada ‘ibadah yang disunnahkan oleh Rosul Allaah shola Allaahu ‘alaihi wasallam itu. Konon, di daerah Rokan, masih ada dibuat orang meski tak sering. Tak mengherankan karena  saking langkanya, banyak yang ternganga melongo menyaksikannya. Tetapi orang-orang riang ketika hal itu jadi dilaksankan pada penyembelihan hewan ‘aqiqah, menjelang ‘ashor Jum’at 24 Rojab 1438 (21 April 2017) kepetang. Ramai juga yang datang berdedai ke halaman kediaman dinas Gubernur Riau ketika itu, yang ditegakkan tenda besar dan lapang.

PEBILANG (pewara atau protokol) dipercayakan kepada Tuan Guru Datuk Haji Syafruddin Saleh Sai Gergaji. Diharapkan pula menguraisingkatkan falsafah adat pada ‘aqiqah yang dilaksanakan. Juga memimpin do’a pembuka. Penyembelihan dilakukan oleh Tuan Guru Datuk Haji Husin disertai dengan dandan solek binanatang sembelihan ‘aqiqah menurut alur galur adat Melayu (Riau).  

‘AQIQAH, telah biasa dilakukan sejak selagi zaman jahiliyah. Islaam meneguhkannya dengan meluruhkan kesyirikan yang menyertainya. Hukum pelaksanaannya oleh ulama’ ada yang berfaham sunnah mu’akkad, dan ada pula yang berpendirian wajib. Hari ketujuh kelahiran bayi, sunnahnya, tak mengapa setelah itu jika ada kelapangan rezeki selagi anak belum baligh. Hanya kambing, hewan yang boleh dijadikan binatang qurban ‘aqiqah. Dua ekor untuk bayi lelaki, seekor untuk bayi perempuan, berjenis jantan atau betina terserahlah dek ada ketentuan sunnnah hal kelaminnya.

***

Jadikan gambar sebaris

Datuk Haji Husin siap menyembelih hewan 'aqiiqah. Giar dan Garsat yang dikepak tampak 'ngeri' tak hendak menyaksikan. (Foto: Dani/ Senuju.com)

 

MULA-MULA, kambing yang digiring ke jagal penyembelihan, direnjisi percikan air ke sekujur tubuhnya oleh Datuk Haji Husin. Sebelumnya, mulut tuanya yang sudah tampak keriput, berkomat-kamit mensirkan zikir. Setelah itu, janggut, umbai, dan bebulu kambing, juga ekornya disikat dengan sisir rambut. Lantas diusap dengan minyak kemiri, sehingga bebulu kambing itu tampak licau bekinyau. Barulah dihadapkan cermin muka ke wajah kambing – seolah menyuruh binatang itu mematut apakah kalau  jantan dah sanggam gagah dan jika  betina dah kelihatan kacak-lawa atau  belum.  Bergantian kedua-dua ekor kambing yang hendak disembelih pertama, dibegitukan oleh orangtua asal Sungaiapit, Kabupaten Siak itu.

Dihirit kambing pertama ke lubang penyembilahan. Binatang itu dibaringkan yang entang lehernya disangga kiri kanan dengan batang pisang. Sepasang kaki depan dan kaki belakangnya dipegang kuat-kuat oleh dua orang untuk menahan geliat retang binatang itu

Tegak membungkuk, Datuk Haji Husin memegang leher si kambing dengan tangan kiri. Tangan kananya mencabut sekin penjagal yang terselip dalam sarung yang disematkan di pinggang. Sekin penjagal itu diacungkan tetinggi-tinggi. Jahar diujarkannya: bismillaahi Allaahu akbar. Allaahumma minka wa laka, hazihi ‘aqiiqatu Giar Golden Giovandi bin Giovandi (Didahului dengan menyebut ‘asma’ Allaah, Allaah Mahabesar. Wahai, Yaa Allaah, [kambing] ini dari Engkau, dan untuk Engkau pula (bagi) ‘aqiiqah Giar Golden Giovandi bin Giovandi). Mantap diucapkannya: bismillaahi ‘r-Rohmaani ’r-Rohiim, sigap pula sekin penjagalnya mendebih leher kambing.

Darah muncrat dari sela bagian leher yang tertarah sembelihan sekin penjagal. Dipekikkan kalimah Allaahu akbar tiga kali oleh Datuk Haji Syafruddin. Segenap hadirin mengikutkan takbir itu, yang bersiponggang meruang ke angkasa petang. Dilanjutkan kambing kedua, setelah melafazkan do’a yang sama, diikuti pekikan takbir menggema, usailah sudah untuk si Giar anak pertama cucu pertama yang berumur sekira empat tahun.

Dua ekor kambing untuk penyembelihan tahap kedua dihirit, didandan solek, dan becermin pula bergantian. Disembelih kambing ketiga dan keempat bergantian, beriring takbir dari bibir segenap hadirin dipandu Datuk H. Syafruddin. Tapi, setelah do’a penyembelihan sebelum didebih, diucapkan Datuk Haji Husin: hazihi ‘aqiiqatu Garsat Arafat Giovandi bin Giovandi. Selesai pula penyembelihan hewan ‘aqiiqah untuk Garsat, anak kedua cucu kedua yang berusia sekira empat bulan.

Setelah membersihkan tangan dan sekin penjagal, yang konon kata Datuk Haji Husin dibuatnya sendiri dan telah berusia 50 tahun, dia menuju pelantang (mikrofon). Petugas harus merendahkan tegak corong menyesuaikan letaknya dengan arah mulut Datuk Haji Husin. Dia memimpin do’a penutup, membacanya dari konsep yang sudah disiapkan. Do’a itu ditulis menggunakan huruf Arab Melayu. Datuk Haji Husin, ternyata buta aksara Latin. Tak heran ketika dia mengucapkan nama Giar Golden Giovandi, dan Garsat Arafat Giovandi, yang kurang akrab dengan lidahnya, dia agak terpelat dan haus dituntun membetulkannya oleh Datuk Haji Syafruddin.

Acara penyembelihan berakhir, tapi yang hadir tak segera beranjak bubar. Tampak masih asyik berbual, yang di antaranya membincangkan ritual adat kearifan lokal yang tak pernah disaksikan lagi sebelum ini. Tetapi satu hal dibisikkan oleh Datuk Haji Husin, kambing ‘aqiqah yang hendak disembelih tidak hanya didandan solek dan becermin, tapi juga dibedakpupuri. Itu, jika diikuti tepuk-tepung-tawar. Karena tepuk-tepung-tawar dilaksanakan  sebelum kerat rambut, maka membedakpupuri kambing ‘aqiqah ditiadakan.

***

UJAR PENGANTAR, Tuan Guru Datuk Haji Syafruddin Saleh Sai Gergaji ketika menjadi pebilang dan pemandu doa pembuka menegaskan, bahwa dandan solek binatang sembelihan ‘aqiqah bukanlah sunnah Rosul Alaah. Asalnya dari kearifan lokal orangtua-tua dulu menyikapi ‘ibadah (ritual) tidak dengan maksud menambah-nambah. Tujuannya hanya penyemarak ajakan orang melaksanakan perintah Allah dan RosuNya.

Islaam, ujar Tuan Guru , bertindak tegas dan bijaksana menyikapi adat. Pertama, menghapus-pupuskan adat kebiasaan jika berunsur syirik yang  tak mungkin sekadar diluruskan. Kedua, seandanya ada hal-hal yang bertentangan, tetapi masih dapat diluruskan, maka Islaam memodifikasinya beriring dengan dacingan Islaam. Ketiga, adat-istiadat yang tidak ada unsur kemusyrikan dan tidak pula bertentangan, justru tetap dipelihara tanpa ubah suai.

FALSAFAH POSITIF, dapat dicermati dari upacara dandan solek binatang sembelihan ‘aqiqah. Rasa syukur dikarunia anak oleh Allaah Tabaoka wa Ta’ala, harus disertai ibu+bapa beserta datuk+nenek dan keluarga dengan mendidiknya sebaik-baiknya dengan menjauhkan mereka dari peri kebinatangan. Maka renjis diri guna menjauhkan syaithon penggoda. Dandan soleklah mereka menghias hidup teguh patuh mento’ati Allaah dan Rosul, sebagaimana pasrahnya binatang itu didebih-sembelih. Sisiri badan diri dari kotoran yang mungkin menempel pada badan diri dan bathin. Becerminlah hidup, meski kepada hewan sekali pun agar kita tak lebih hina dari pada hewan peliharaan sebagaimana ditegaskan Allaah pada ayat 179 suroh ke-7, al-A’rof.

“Kita manusia,  menghadap Allah haruslah bersih dan lahir dan bathin. Bersihkan diri dari prikebinantangan.  Hewan sembelihan qurban dan ‘aqiqah saja harus bersih dari cacat, konon tah lagi kita manusia,” tukas Tuan Guru yang juga seniman-budayawan terbilang di negeri ini.

(Rajasa Ngaiji)


Akses Senuju.com Via Mobile m.senuju.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
BERGABUNG DI SINI
KABAR POPULER